2021, KA Logistik Bidik Volume Angkutan Barang Sebesar 56 Juta Ton

BisnisNews.id — PT KA Logistik siap meningkatkan pelayanan kepada mitra dan pengguna jasanya, khususnya pelaku usaha sektor logistik di Tanah Air.  Moda angkutan berbasis rel akan menjadi satu alternatif angkutan logistik yang lebih hemat, efisien, ramah lingkungan dan lainnya.

“Angkutan logistik berbasis rel memberikan berbagai kelebihan dan semua siap diberikan kepada pelanggan setia kami,” kata Direktur Niaga KA Logistik Dadan Rusdiansyah dalam webinar “Tantangan Alihmoda Angkutan Logistik dari Angkuan Darat ke Kereta Api di Indonesia”,  Selasa (23/2/2021).

Tahun 2020 lalu, kata dia, total volume barang yang diangkut KA Logistik sebesar 40 juta ton. Dan tahun 2021, ditargetkan naik menjadi 56 juta. Peluang dan kesempatan untuk terus menambah pangsa pasar masih terbuka.

“Kita optimis, target volume angkutan barang oleh KA Logistik akan bisa dipenuhi. Peluang untuk menggapai pasar pasar itu terbuka luas,” kata Dadan  dalam webinar yang dipandu Dr.Cris Kuntadi itu.

Ke depan, menurut Dada,  KA logistik akan mengoptimalkan sinergi dan kerja sama operasi dengan para pihak, terutama di lingkungan BUMN, BUMD serta badan usaha swasta lokal dan asing. “Masih banyak pangsa muatan yang bisa dilayani dan dioptimalkan oleh KA Logistik di Indonesia,”  jelas Dadan.

Berbagai jenis muatan seperti semen, besi/ baja, general kargo, bahkan BBM dan CPO  serta lainnya bisa dilayani moda KA. “Selama ini, KA Logistik di Jawa dan Sumatera sudah melayani semua itu. Tantangan bagi kita, bagaimana bisa meningkatkan modashare angkutan barang dengan KA,” kilah Dadan.

90% Muatan Dengan Angkutan Darat

Sementara, Staf Ahli Menhub Bidang Logistik, Multimoda dan Keselamatan Cris Kuntadi mengatakan,  sekitar 90% pangsa pasar angkutan logistik di Indonesia masih dilayani dengan moda transportasi jalan. Sedang angkutan laut, sekitar 8% dan angkutan KA 1,6% dan sisanya diangkut dengan pesawat terbang.

Masalahnya sekarang,  kata Cris, angkutan logistik dengan angkutan darat juga memberikan dampak negatif yang cukup besar.   Kementerian PUPR mencatat, kerugian akibat kerusakan jalan yang dipicu truk ODOL mencapai kisaran Rp45 triliun per tahun.

Selain itu, angkutan berbasis truk juga memberikan dampak negatif lainnya. “Mereka itu seperti boros BBM, pencemaran udara yang tinggi, tingkat kerusakan jalan yang tinggi,  serta rawan macet bahkan lambat sampai ke tujuan,” papar Cris.

Oleh karena itu, Pemerinah khususnya Kemenhub mengajak semua pihak terkait khususnya pelaku usaha logistik mau mengalihkan/ alihmoda angkutan logistik dari berbasis truk ke kereta api. “Moda angkutan kereta api sangat efisien, kapasitas besar, kecepatan tinggi, serta tingkat keselamatan tinggi,” kilah Cris.

Masalahnya kemudian, menurut Ketua Korp Alumni STAN itu, bagaimana moda angkutan KA di Indonesia makin efisien, sehingga bisa memberikan harga terbaik. Dengan begitu, KA akan bisa lebih bersaing khususnya dengan truk. 

“Disini moda KA khususnya KA Logistik dituntut untuk lebih kreatif dan terus membuat terobosan di bidang pelayanan yang makin baik, efisien dan harga bersaing. “Di era pasar bebas sekarang, hanya dengan pelayanan terbaik dan efisien kita akan bisa memenangkan persaingan,” tandas Cris.(helmi)